Tanggung jawab Larijani meningkat secara signifikan. Dia mengawasi langkah-langkah keamanan dalam negeri selama protes, berkoordinasi dengan aktor-aktor regional seperti Rusia, Qatar, dan Oman, serta berperan dalam negosiasi nuklir dengan Washington.
Dia juga terlibat dalam perencanaan kontinjensi jika terjadi perang atau gangguan terhadap kepemimpinan.
Larijani berasal dari keluarga politik dan religius elite. Dia menjabat sebagai Ketua Parlemen selama 12 tahun dan sebelumnya pernah menduduki posisi sekretaris Supreme National Security Council dari 2005 hingga 2007 sebelum kembali ke jabatan tersebut pada 5 Agustus tahun ini.
Pada 2021, dia juga ditugaskan untuk merundingkan perjanjian strategis 25 tahun dengan China senilai miliaran dolar, yang mencerminkan posisinya yang kuat dalam sistem pemerintahan.
Meski menjadi figur sentral dalam lingkaran kepemimpinan Iran, Larijani tidak dianggap sebagai calon kuat pengganti Khamenei karena dia bukan ulama Syiah senior, yang merupakan syarat utama untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi.
Namun, menurut laporan The New York Times, para pejabat menyebut namanya berada di posisi teratas dalam daftar kontinjensi untuk mengelola negara jika terjadi gangguan dalam kepemimpinan.
Para pengamat menggambarkan Larijani sebagai konservatif yang kalkulatif dengan perpaduan pragmatisme dan nasionalisme. Sementara sejumlah kritikus mengaitkannya dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan menuduhnya terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.
Sementara itu, para pendukungnya memandangnya sebagai salah satu dari sedikit figur yang masih mampu menjaga stabilitas sistem yang tengah berada di bawah tekanan.
(NIA DEVIYANA)