“Artinya, kita harus bersiap karena tantangan Karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering,” ujar Faisal dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Dia menjelaskan bahwa wilayah ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini tengah mengalami fase “kemarau kecil”, di mana masih terdapat peluang hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga Agustus.
Momentum ini dimanfaatkan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna menurunkan hujan dan membasahi lahan gambut agar lebih jenuh air sebelum periode kering mencapai puncaknya.
BMKG juga terus memantau potensi siklus El Nino empat tahunan yang diperkirakan dapat terjadi pada 2027. Jika fenomena tersebut muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering, maka Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.
“Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang,” tambahnya.