Kedua adalah enkripsi pertukaran data yang melindungi data medis yang lalu lalang antarfaskes agar tidak dapat disadap (tapping) oleh pihak yang tidak berwenang. Dalam menjaga keamanan lalu lintas data ini, Kemenkes berkolaborasi langsung dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
“Pada saat pertukaran data itu jangan sampai di-tap datanya. Itu ada sistem security yang namanya enkripsi. Nah, ini kita dibantu BSSN untuk memastikan bahwa setiap terjadi pertukaran data ini itu aman. Dua hal itu yang kita pasang dan itu dikawal terus oleh BSSN,” jelas Budi.
Terkait jangkauan integrasi, ia mencatat dari sekitar 100.000 faskes di seluruh Indonesia, sebanyak 60.000 faskes di antaranya telah terhubung ke dalam ekosistem Satu Sehat. Proses integrasi ini dilakukan secara bertahap, mencakup sinkronisasi data rekam medis, laboratorium, resep obat-obatan, hingga hasil radiologi.
Selain penyimpanan rekam medis, aplikasi SatuSehat yang mengubah basis pengguna aplikasi PeduliLindungi sebanyak 160–170 juta pengguna juga dibekali fitur penunjang kepatuhan dan pengingat obat.
“Di dalamnya ada pengingat obat. Jadi ada salah satu fiturnya kalau kita minum obat TBC misalnya, itu diingatkan setiap hari. Nanti keluar bisa di set supaya keluar di warning-nya kita dulu ada sertifikat vaksin, itu tetap ada, kita sudah vaksin seperti apa,” pungkas dia.
(Nadya Kurnia)