“Pertanyaannya, mengapa kita harus bertindak sekarang? El Niño ini menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang, musim hujan datangnya lebih lambat, curah hujannya menurun, serta suhu udara meningkat. Suhu udaranya masih akan meningkat karena Bumi merespons dengan lebih lambat, ya,” kata Faisal.
Adapun dampak kemarau yang lebih panjang karena El Niño ini, antara lain risiko penurunan produksi dan gangguan kalender tanam pada sektor pangan. Sementara pada sumber daya air, ketersediaan air baku bisa menurun, kapasitas waduk berkurang, dan irigasi terganggu.
“Ini kita sedang melakukan OMC untuk pengisian waduk-waduk di Jawa. Koordinasi antara deputi modifikasi cuaca. Ini Pak Doktor Seto, yang sudah langsung berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Air untuk mengisi 240 bendungan. Bukan semuanya, tapi yang mengalami kekeringan terparah,” ujarnya.
Selain menjaga ketersediaan air di bendungan, Faisal mengatakan bahwa operasi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Faisal, pendekatan penanganan karhutla kini lebih mengedepankan langkah preventif dibandingkan dengan hanya melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi. Sejak 2015, BMKG telah menerapkan paradigma preventif dalam menghadapi karhutla.