IDXChannel - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan, bahwa serangan dapat dilancarkan terhadap perusahaan-perusahaan energi AS, demikian dilaporkan Al Jazeera pada hari Senin.
Dilansir dari laman Investing Selasa (8/9/2026), dalam sebuah unggahan di media sosial, Ghalibaf menyatakan, "Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah dijangkau, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko kerentanan yang sama," tuturnya.
"Jika kalian menyerang aset kami, kalian akan diserang balik. Kami sudah membuktikannya," kata dia.
Al Jazeera melaporkan bahwa ancaman tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengancam akan menghancurkan kapal-kapal minyak Iran jika Iran menargetkan kapal-kapal Amerika.
Saling lempar ancaman ini terjadi setelah otoritas Iran mengisyaratkan rencana untuk menetapkan zona terlarang di dekat Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Sebelumnya, pasukan AS menyerang dan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak Iran pada akhir pekan lalu. Hal ini merupakan sebuah tindakan yang menurut Washington adalah balasan atas serangan rudal balistik oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menargetkan dua kapal perang Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.
Sementara itu, aktivitas pelayaran yang melintasi selat tersebut telah merosot ke tingkat terendah sejak bulan Mei, menurut data pelayaran yang dikutip dalam berbagai laporan media.
Hanya dua kapal yang melintasi jalur perairan tersebut pada hari Sabtu, diikuti oleh enam kapal pada hari Minggu. Rata-rata pergerakan 10 hari turun menjadi 10 kapal.
Sebelum pecahnya perang Iran pada akhir Februari, sekitar 125 kapal komoditas berukuran besar melintasi selat tersebut setiap harinya, mencakup sekitar seperlima dari total lalu lintas kapal tanker global.
Sementara itu, kelangkaan pasokan energi akibat penutupan efektif Selat Hormuz telah mengguncang pasar global; para pelaku pasar khawatir akan kemungkinan lonjakan harga minyak yang dapat memicu kenaikan inflasi dan suku bunga.
Konflik itu sendiri kini telah berlangsung selama enam bulan dan menemui jalan buntu. Menurut analisis Vital Knowledge, AS tampaknya tidak mampu atau tidak mau mengakhiri pertempuran tersebut, sementara Teheran justru bersikeras mempertahankan pendiriannya.
Namun, mereka mencatat bahwa Washington tampaknya sedang memenangkan perang Hormuz. Menurut Reuters, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, ditambah dengan sanksi yang lebih ketat, telah menghambat ekspor minyak dan akses Teheran terhadap mata uang asing.
Ekonomi Iran mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan akibat langkah-langkah tersebut, demikian dilaporkan Reuters dengan mengutip sumber-sumber internal Iran dan pihak-pihak di kawasan tersebut.
(kunthi fahmar sandy)