sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kayu Hanyutan Pascabencana Sumatera Sudah Digunakan untuk Bangun 13 Unit Huntara

News editor Kunthi Fahmar Sandy
12/01/2026 21:33 WIB
Pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh dan Sumatera utara sudah digunakan untuk membangun 13 unit hunian sementara (huntara).
Kayu Hanyutan Pascabencana Sumatera Sudah Digunakan untuk Bangun 13 Unit Huntara (FOTO:Dok Kemenhut)
Kayu Hanyutan Pascabencana Sumatera Sudah Digunakan untuk Bangun 13 Unit Huntara (FOTO:Dok Kemenhut)

IDXChannel - Kementerian Kehutanan menyatakan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh dan Sumatera utara sudah digunakan untuk  membangun 13 unit hunian sementara (huntara).

Adapun 10 unit masih dalam proses dan 3 unit telah dihuni warga Desa Geudumbak. Selain itu, 50 personel Kemenhut juga membersihkan fasilitas pemerintahan desa, termasuk Kantor Keuchik Leubok Mane sebanyak 4 ruangan.

Kementerian Kehutanan pun terus mengoptimalkan pemanfaatan kayu hanyutan akibat bencana hidrometeorologi sebagai bagian dari strategi pemulihan cepat lingkungan dan penyediaan hunian bagi warga terdampak di Aceh Utara dan Sumatera Utara.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 69 personel Kemenhut dikerahkan dengan dukungan 38 unit alat berat, terdiri atas 30 unit milik Kemenhut (14 ekskavator capit, 11 ekskavator bucket, 5 dozer), 7 unit TNI, serta 1 ekskavator dan 3 dump truck dari PUPR dan Kemenhut.

Kegiatan difokuskan pada pembersihan dan pemilahan kayu di permukiman warga agar dapat dimanfaatkan untuk pembangunan huntara.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyampaikan bahwa hingga 11 Januari 2026, tim BPHL bersama Dinas LHK Aceh telah mengukur 938 batang kayu hanyutan dengan total volume mencapai 1.506,08 meter kubik.

“Kayu hanyutan ini menjadi sumber material utama untuk mendukung pembangunan hunian sementara secara cepat dan terkontrol,” ujar Subhan Senjb (12/1/2025).

Sementara di Sumatera Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menjelaskan bahwa penanganan kayu hanyutan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol kini memasuki tahap penatausahaan dan pemanfaatan.

“Fokus kami saat ini memastikan kayu hanyutan yang sudah diolah benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan hunian warga dan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan,” kata Novita.

Hingga 11 Januari 2026, kayu olahan dari wilayah Garoga mencapai 1.376 keping dengan total volume 19,5755 meter kubik, yang diperuntukkan bagi pembangunan hunian sementara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru. 

Dari jumlah tersebut, 752 keping atau 9,9373 meter kubik telah diangkut ke lokasi huntara.

Selain pemanfaatan kayu, upaya pemulihan lingkungan juga dilakukan melalui normalisasi Sungai Garoga. 

Hingga saat ini, pekerjaan normalisasi dan pembersihan sumbatan kayu di bagian hulu sungai telah mencapai ±1,329 kilometer atau sekitar 25,07 persen dari total target 5,5 kilometer, dengan mengoperasikan 7 unit alat berat.

Kegiatan penanganan pascabencana ini menjadi bagian dari upaya terpadu Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan mitra terkait untuk memastikan kayu hanyutan sebagai barang negara dapat dimanfaatkan secara legal, aman, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement