Menurutnya, pemeringkatan tradisional yang kerap berfokus pada volume penelitian dan jumlah sitasi harus mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai kemajuan kemanusiaan.
Badri menjelaskan bahwa pendidikan yang berorientasi pada tujuan harus membekali mahasiswa dengan pemikiran kritis, nilai etis, dan empati. Dengan demikian, riset dan inovasi yang dihasilkan tidak sekadar canggih secara teknis, tetapi juga menjawab persoalan nyata di masyarakat.
"Bali dikenal secara global atas filosofi budayanya, Tri Hita Karana, tiga penyebab kesejahteraan, keharmonisan dengan sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ini menjadi latar belakang simbolis yang sempurna saat kita berdiskusi mengenai topik yang berada di jantung kemajuan manusia, memajukan pendidikan untuk tujuan (purpose) dan dampak (impact)," tuturnya.
Menjelaskan makna "dampak", Prof. Badri menekankan pentingnya eksekusi dan hasil terukur di dunia nyata.
Ia memberi contoh bagaimana terobosan riset pertanian universitas mampu membantu petani lokal menghadapi perubahan iklim atau bagaimana inovasi energi bersih dapat langsung menerangi desa-desa terpencil.