"Pemeringkatan memberi kita kredibilitas untuk memimpin; dampak adalah bukti bahwa kita telah memimpin dengan baik," tuturnya.
Di tingkat nasional, Prof. Badri menjabarkan, integrasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke dalam satu kementerian terpadu menjadi langkah strategis Pemerintah Indonesia untuk meruntuhkan sekat antara penemuan ilmiah dan penerapannya di masyarakat.
Maka itu, dia menyerukan pentingnya "kolaborasi radikal" antarinstitusi di kawasan Asia-Pasifik. Tantangan global abad ini dinilai terlalu kompleks untuk dihadapi oleh satu negara atau satu institusi saja.
"Tantangan abad ini, mulai dari ketegangan geopolitik, adaptasi iklim, hingga tata kelola etis kecerdasan buatan, tidak mengenal batas negara. Oleh karena itu, kawasan Asia-Pasifik membutuhkan era baru kolaborasi radikal. Kita harus melangkah melampaui persaingan akademik tradisional dan merangkul kemitraan yang mendalam dan sistemik," bebernya.
Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada QS serta para tuan rumah penyelenggara, yakni Universitas Binus, Universitas Padjadjaran, dan Education University of Hong Kong, yang telah sukses menyatukan para pemikir terbaik di kawasan Asia-Pasifik.