“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” ujar Subhan dikutip keterangan pers Selasa (6/1/2025).
Pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan telah mendukung pembangunan hunian sementara (huntara). Hingga saat ini, dua unit huntara dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai.
Sementara itu di Sumatera Utara, penanganan pascabencana dipusatkan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan.
Sejumlah segmen pemilahan kayu bahkan telah mencapai 100 persen sesuai peta kerja.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani menyampaikan bahwa penanganan dilakukan seiring dengan penyiapan hunian bagi warga terdampak.