IDXChannel—Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti tata kelola program internship dokter, menyusul empat dokter internship meninggal dunia saat bertugas sepanjang tahun ini.
Hal itu disampaikan Budi melalui unggahan video di Instagram-nya melalui konten Budi Gemar Sharing #BGS. Dalam konten itu, Budi mengucapkan belasungkawa atas wafatnya dr. Myta.
Dia juga mengatakan Kementerian Kesehatan telah melakukan investigasi bersama Gubernur Jambi, Dirjen SDMK, hingga tim Inspektorat Jenderal Kemenkes dengan mendengarkan langsung keterangan para dokter internship.
“Saya hadir di Kuala Tungkal dengan perasaan duka yang mendalam atas wafatnya empat dokter kita saat bertugas,” tulis Budi dalam caption unggahannya.
Dari hasil evaluasi tersebut, Kemenkes pun akhirnya merombak sejumlah aturan, salah satunya membatasi jam kerja maksimal 40 jam per minggu, yakni delapan jam sehari dan lima hari seminggu.
Ia menegaskan bahwa jam tersebut tidak boleh lagi ditambah-tambahkan hingga membuat dokter internship kelelahan.
“Pertama, kami ingin memastikan bahwa batas jam kerja 40 jam itu harus dilakukan delapan jam sehari, lima hari seminggu. Jadi tidak bisa dipadat-padatkan sehingga membuat keletihan,” ujar Budi dalam video.
Tak hanya itu, jumlah cuti dokter internship juga akan ditambah dari sebelumnya empat hari menjadi 10 hari, di luar cuti sakit dan cuti hamil. Kemenkes juga menghapus aturan prolong bagi dokter internship yang sakit hingga satu bulan.
Artinya, peserta tidak perlu mengganti masa tugas selama satu bulan tersebut.
“Kalau orang sakit selama satu bulan misalnya, ya, sudah dia tidak usah mengganti yang satu bulan,” jelasnya.
Selain itu, dokter pendamping juga diwajibkan selalu hadir untuk mengawasi dan membina peserta internship. Budi menegaskan dokter internship tidak boleh dijadikan pengganti tenaga medis tetap di rumah sakit.
Meski begitu, Budi menjelaskan bahwa durasi internship tetap dipertahankan selama satu tahun. Adapun keputusan tersebut disesuaikan dengan standar negara ASEAN dan G20.
(Nadya Kurnia)