Laporan komoditas tersebut menyatakan bahwa banyak petani diperkirakan akan membiarkan lahan yang telah dibajak tidak ditanami karena kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, serta kondisi kekeringan dan perkiraan curah hujan musim dingin nasional yang di bawah rata-rata.
"Dampak konflik Timur Tengah sangat signifikan bagi pertanian Australia karena sektor ini berorientasi ekspor dan sistem pertanian menggunakan impor bahan bakar, pupuk, bahan kimia, dan kemasan sebagai input," kata laporan tersebut.
Menurut ABARES, harga ekspor biji-bijian dan minyak nabati Australia telah naik sekitar 20 persen sejak konflik di Timur Tengah dimulai, tetapi harga domestik pupuk urea telah naik lebih dari 80 persen dalam periode yang sama.
Laporan tersebut menanbahkan nilai ekspor pertanian diperkirakan akan turun sebesar 9 persen menjadi 74,8 miliar dolar Australia. (Wahyu Dwi Anggoro)