Menurutnya, masker N95 tetap lebih disarankan ketika seseorang harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap. Jenis masker tersebut memiliki kemampuan filtrasi yang lebih baik dibandingkan masker biasa.
Namun, ada alasan mengapa N95 tetap tidak bisa memberikan perlindungan sempurna. Ukuran partikel dalam asap sangat kecil sehingga sebagian masih berpotensi masuk hingga ke bagian dalam paru-paru.
“Asap kan ukurannya di bawah 0,5 mikron, jadi dia bisa masuk ke paru dan bisa mengendap di alveoli,” jelasnya.
Meski tidak memberikan perlindungan 100 persen, dr Linda menegaskan penggunaan N95 tetap dapat membantu mengurangi paparan asap. Artinya, masyarakat yang berada di wilayah terdampak karhutla tetap dapat menggunakan masker sebagai salah satu upaya perlindungan.
Selain itu, dr Linda juga menjelaskan bahwa paparan asap dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan paru yang bersifat akut. Misalnya bronkitis, asma hingga cedera paru akut adalah beberapa hal yang bisa terjadi karena paparan asap.