Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengungkapkan kepada awak media bahwa pemimpin negara ASEAN mendiskusikan mekanisme untuk memiliki cadangan beragam jenis bahan bakar, di mana negara anggota dapat saling berbagi.
“Situasi tiap negara berbeda-beda. Ada negara yang surplus jenis bahan bakar tertentu, ada yang justru kekurangan, dan kami berupaya untuk menyeimbangkannya,” tutur Marcos pada Jumat (8/5/2026).
Stockpile bahan bakar ini berguna bagi negara anggota sebagai cadangan darurat jika terjadi kondisi genting, seperti perang Timur Tengah yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz.
Pada sesi pleno KTT ASEAN ke-48, PM Singapura Lawrence Wong juga menyerukan ratifikasi cepat atas perjanjian yang memungkinkan negara anggota untuk saling mendukung kebutuhan migas saat terjadi gangguan pasokan. Ratifikasi ini terakhir diperbarui pada 2025.
(Nadya Kurnia)