“AI mampu membantu mempercepat proses analisis dan memberikan berbagai rekomendasi berbasis data. Namun pada akhirnya manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nyata. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting di era AI,” kata Farah.
Menurutnya, kebutuhan industri saat ini juga mengalami perubahan yang signifikan. Jika sebelumnya dunia kerja lebih menekankan penguasaan teori dan pengetahuan teknis, kini perusahaan membutuhkan talenta yang mampu mengombinasikan pemanfaatan teknologi dengan kemampuan analitis dan penyelesaian masalah.
Peruri menilai terdapat lima kompetensi utama yang perlu dimiliki generasi muda yaitu data literacy, AI literacy, digital product mindset, security dan governance, terakhir critical thinking dan problem solving.
Farah menambahkan bahwa pengembangan kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh dunia industri. Dibutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Sebagai GovTech Indonesia, Peruri terus mendukung pengembangan ekosistem digital nasional melalui berbagai inovasi berbasis teknologi, data, dan keamanan digital.