Selama ini, Dahnil menilai kerja sama tim petugas haji bermasalah, begitu juga dengan tingkat kedisiplinan dan koordinasinya. Hal-hal ini menjadi kritikan dari Dahnil.
Dia menilai pendidikan ala militer menjadi satu-satunya cara untuk memperbaiki kinerja para petugas haji. Tak terkecuali membangun kekuatan fisik yang mesti dimiliki petugas haji saat melayani jamaah di Tanah Suci.
“Instansi mana yang memiliki kapasitas untuk membangun tim yang kuat? Militer. Jadi kalau ada yang bilang ini militerisme, iya, karena kami ingin mengadaptasi nilai-nilai kedisplinan dan kerja tim yang kuat dari militer, termasuk Peraturan Baris Berbaris karena awal dari ketertiban, kedisplinan itu dari PBB misalnya,” ucapnya.
Bukan cuma terlibat dalam pendampingan pelatihan, kementerian juga memperbanyak jumlah aparat TNI dan Polri yang bertugas sebagai petugas haji. Dahnil mengatakan keputusan penambahan personel aparat merupakan hal yang berdasar.
“Ditambah dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Amanah Presiden Prabowo menginginkan unsur TNI polri karena evaluasi setiap tahun bahwa kinerja petugas haji dari TNI atau Polri itu bagus,” kata dia.
(Nadya Kurnia)