sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Potensi Hujan Meningkat di Tengah Kondisi Panas-Kering Awal November 2026

News editor Binti Mufarida
30/10/2026 13:58 WIB
BMKG mengeluarkan peringatan awal potensi peningkatan hujan di tengah kondisi panas dan kering memasuki awal November 2026.
Potensi Hujan Meningkat di Tengah Kondisi Panas-Kering Awal November 2026. (Foto Istimewa)
Potensi Hujan Meningkat di Tengah Kondisi Panas-Kering Awal November 2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan awal potensi peningkatan hujan di tengah kondisi panas dan kering memasuki awal November 2026.

Prediksi BMKG untuk Dasarian I November 2026 mengindikasikan, mayoritas wilayah Indonesia didominasi oleh presipitasi kategori menengah (50–100 mm/dasarian) sebesar 67,62 persen, disusul kategori rendah (0–50 mm/dasarian) sebesar 30,57 persen, dan kategori tinggi (150–300 mm/dasarian) sebesar 1,81 persen.

“Presipitasi rendah terkonsentrasi di Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian kawasan Sulawesi dan Maluku,” tulis BMKG dikutip dari laman resminya, dikutip Jumat (30/10/2026).

BMKG melaporkan, meski akumulasi dasarian berada pada rentang rendah hingga menengah, dinamika atmosfer berpeluang memicu pembentukan awan konvektif yang akan meningkatan potensi hujan.

Dalam sepekan ke depan, BMKG menjelaskan, fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia, sedangkan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di bagian timur.

“Fenomena-fenomena ini mendorong pertumbuhan awan hujan, terutama pada area dengan konvergensi massa udara dan labilitas atmosfer yang signifikan,” tulis BMKG.

Selain itu, BMKG melaporkan, dinamika pola angin regional turut dipengaruhi oleh kemunculan Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman serta pola sirkulasi siklonik di Laut Natuna.

Keberadaan kedua sistem tersebut membentuk zona konvergensi dan perlambatan kecepatan angin (konfluensi), yang menstimulasi pembentukan awan konvektif pemicu hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang.

“Oleh sebab itu, meskipun akumulasi dasarian tergolong sedang, probabilitas presipitasi ekstrem harian tetap memerlukan antisipasi mitigasi bencana hidrometeorologi,” tulis BMKG. 

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement