"Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang tangguh terhadap iklim membutuhkan kepemimpinan pemerintah yang kuat, sistem perlindungan sosial yang responsif, serta keberanian untuk bertindak sebelum krisis terjadi. Tidak banyak negara yang mampu melakukan ini secara terpadu, dan Indonesia adalah salah satunya," ujar Rania dalam keterangan resmi, Sabtu (24/1/2026).
Dari sisi teknologi dan data, CEO ClimateAi Himanshu Gupta menilai pendekatan sistemik Indonesia relevan dalam menjaga stabilitas pangan di tengah dinamika global, terutama dengan modal capaian swasembada beras di sebagian besar tahun.
"Indonesia memiliki modal penting dalam ketahanan pangan, termasuk tingkat swasembada beras di sebagian besar tahun. Pendekatan sistemik dan berbasis data akan menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan tersebut di tengah tantangan iklim dan dinamika global," tutur Himanshu.
Sementara itu, Chairman and Group CEO United Phosphorous Limited (UPL) Jai Shroff menilai investasi teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat sistem pangan nasional.
"Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berinovasi di sektor pertanian. Banyak masyarakat yang terlibat langsung dalam pertanian, dan dengan teknologi yang tepat, perubahan besar sangat mungkin terjadi," kata Shroff.