Beberapa pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG melalui Selat Hormuz setelah perang pecah akhir pekan lalu.
“Saat ini, belum ada penangguhan resmi (lalu lintas melalui selat) yang dikomunikasikan secara internasional oleh otoritas maritim yang diakui,” kata Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS dalam sebuah catatan pada 28 Februari.
“Para pelaut harus mengantisipasi peningkatan kehadiran angkatan laut, potensi panggilan radio, kemacetan di dekat area berlabuh di luar Selat, dan volatilitas pasar asuransi,” katanya.
Dalam serangan balasannya, Iran juga menyasar pangkalan AS di kawasan Teluk. Teheran juga dikabarkan berencana menutup Selat Hormuz. (Wahyu Dwi Anggoro)