Bahkan, panitia pusat tahun ini telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi identitas peserta. Sehingga meminimalisir adanya kecurangan dengan modus “joki ujian”.
"Tahun ini pun misalnya kita itu sudah punya data anomali, ada 2.940 data anomali. Nah, ini kan sebenarnya kita bagikan kepada masing-masing pusat UTBK. Mulai tahun ini, kita melakukan deteksi dengan menggunakan teknologi AI. Jadi kita bisa mendeteksi wajah, kalau kemudian misalnya ada kecurangan dalam bentuk joki," ungkap dia.
Tjitjik menjelaskan, teknologi ini mampu melacak rekam jejak seseorang yang menjadi joki ujian di setiap tahunnya.
“Kita juga melakukan deteksi AI wajah itu pada peserta tahun yang lalu. Ternyata ada modus-modus yang joki tahun lalu ternyata sekarang juga menjadi joki lagi,” jelas Tjitjik.
Sementara itu, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, menegaskan bahwa pihaknya juga telah menerapkan pemeriksaan secara ketat kepada para peserta.