AALI
9700
ABBA
286
ABDA
7375
ABMM
1380
ACES
1340
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
194
ADRO
2230
AGAR
344
AGII
1435
AGRO
1345
AGRO-R
0
AGRS
167
AHAP
69
AIMS
372
AIMS-W
0
AISA
179
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
785
AKSI
845
ALDO
1485
ALKA
346
ALMI
278
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2022/01/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.22
-0.66%
-3.34
IHSG
6591.98
-0.33%
-22.08
LQ45
938.61
-0.66%
-6.20
HSI
24127.85
0.06%
+15.07
N225
27467.23
-2.8%
-790.02
NYSE
0.00
-100%
-17219.06
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,369
Emas
837,003 / gram

AASI: Kami Butuh Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah Skala Besar

SYARIAH
Hafid Fuad
Senin, 15 Februari 2021 20:52 WIB
Industri asuransi syariah menutup 2020 dengan perolehan laba Rp792 Miliar, menurun hingga 80,5% (yoy) dibandingkan dengan 2019 senilai Rp4,07 triliun
AASI: Kami Butuh Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah Skala Besar (FOTO:MNC Media)
AASI: Kami Butuh Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah Skala Besar (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Wakil Ketua Bidang Pengembangan Industri Asuransi Jiwa Syariah Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Haryo Pamungkas mengaku terpacu melihat suksesnya merger bank syariah yang menghasilkan Bank Syariah Indonesia.  

Dia mengatakan industri asuransi jiwa syariah sejujurnya juga membutuhkan satu perusahaan asuransi jiwa syariah skala besar. Sehingga, pelaku asuransi syariah dapat berkompetisi dengan kompetitor dari konvensional. 

"Tapi soal merger kita kembalikan ke pelaku industri. Karena sampai sekarang belum ada dorongan Pemerintah seperti Kementerian BUMN di BSI," ujar Haryo saat sesi webinar di Jakarta, Senin (15/2/2021).

Dia mengaku, kehadiran BSI memicu semangat ekonomi syariah khususnya industri asuransi jiwa syariah. 

Menurutnya saat ini pelaku industri asuransi syariah harus melakukan banyak sinergi yang bisa didapatkan bersama BSI. "Tentu muncul peluang baru dari BSI yang bisa kita penuhi dari lini asuransi jiwa," katanya.

AASI mencatat hingga Desember 2020, nilai kontribusi industri asuransi syariah mencapai Rp17,3 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 3,8% (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan catatan Desember 2019 senilai Rp16,7 triliun.

Industri asuransi syariah menutup 2020 dengan perolehan laba Rp792 miliar, menurun hingga 80,5% (yoy) dibandingkan dengan 2019 senilai Rp4,07 triliun. Namun, dia menilai kondisi profit tetap menjadi kabar baik bagi industri di tengah pandemi.

"Aset sendiri sepanjang 2020 masih relatif berada di angka yang stabil, sementara kontribusi bruto meningkat dibandingkan dengan 2019 lalu. Laba industri juga masih menunjukkan kinerja yang positif pada 2020," ujar Haryo. (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD