AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Dirut BSI Sebut Perbankan Syariah RI Masih Tertinggal dari Malaysia

SYARIAH
Aditya Pratama/iNews
Jum'at, 23 April 2021 14:25 WIB
Indonesia merupakan penduduk muslim terbesar di dunia dan potensi industri halalnya sekitar Rp4.800 triliun.
Dirut BSI Sebut Perbankan Syariah RI Masih Tertinggal dari Malaysia (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Hery Gunardi menyebut bahwa perkembangan perbankan syariah di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Dia mencontohkan, dengan negara tetangga Malaysia yang perbankan syariahnya sudah cukup bagus. 

Hery mengatakan, Indonesia merupakan penduduk muslim terbesar di dunia dan potensi industri halalnya sekitar Rp4.800 triliun. Namun, yang memulai industri keuangan syariah adalah negara tetangga yakni Malaysia. 

"Disana market share perbankan syariah itu hampir 30 persen terhadap total perbankan yang ada di negara itu, sementara di Indonesia masih di bawah 7 persen," ujar Hery secara virtual, Jumat (23/4/2021). 

Terkait mengapa Indonesia terlambat memulai perbankan syariah, dia menyebut secara sejarah Malaysia memulai perbankan syariah dijalankan secara intensif dari tahun 1960-an, sementara Indonesia baru dimulai tahun 1990-an ditandai dengan hadirnya Bank Muamalat. 

"Hadirnya Muamalat pun banyak sekali tantangannya sehingga maju-mundur, pasang-surut keuangan syariah dan perbankan syariah ini sehingga mengakibatkan sampai hari ini kita baru melek, bahwa kita baru sadar ingin menjadi pusat keuangan atau ekonomi syariah di dunia tapi kita startnya lama," kata dia. 

Dengan dibentuknya KNEKS, adanya Ikatan Ahli Ekonomi Islam, kemudian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), belum dari sisi ormas ada NU dan Muhammadiyah, ini sebenarnya ekosistem yang bisa mendukung pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia. 

Hery menyebut, literasi akan selalu menjadi kambing hitam dari rendahnya penetrasi perbankan syariah di Tanah Air. Namun, menurutnya selama ini terdapat pemahaman atau stigma yang salah terhadap perbankan syariah selama ini.  

Menurutnya, masyarakat atau nasabah melihat perbankan syariah selama ini adalah sangat ekslusif. Jadi, bank syariah dibuat tapi untuk masyarakat tertentu, padahal tidak. Nasabah perbankan syariah boleh siapa aja. 

"Maka hadirnya Bank Syariah Indonesia ini kita mencoba memutar balik bahwa kenyataannya bank syariah itu hadir sama dengan Islam itu rahmatan lil alamin, jadi untuk segala macam umat manusia yang ada di dunia ini. Jadi, kita ingin menjadi bank yang universal, tidak ekslusif, bisa digunakan siapa saja," papar dia. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD