AALI
9575
ABBA
248
ABDA
0
ABMM
2330
ACES
780
ACST
169
ACST-R
0
ADES
7050
ADHI
810
ADMF
8050
ADMG
174
ADRO
2910
AGAR
324
AGII
2060
AGRO
690
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
150
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1495
AKRA
1050
AKSI
300
ALDO
835
ALKA
294
ALMI
0
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.98
-0.3%
-1.63
IHSG
6976.51
-0.29%
-19.95
LQ45
1004.53
-0.31%
-3.11
HSI
22186.19
-1.04%
-232.78
N225
26759.99
-1.07%
-289.48
NYSE
14667.32
-1.13%
-167.98
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,835
Emas
868,327 / gram

Hukum Menggunakan Kartu Kredit dalam Islam, Bolehkah?

SYARIAH
Ratih Ika Wijayanti/SEO
Kamis, 23 Juni 2022 11:33 WIB
Bagaimana hukum menggunakan kartu kredit? Meski telah banyak digunakan, namun banyak orang belum memahami hukumnya dalam Islam.
Hukum Menggunakan Kartu Kredit dalam Islam, Bolehkah? (Foto: MNC Media)
Hukum Menggunakan Kartu Kredit dalam Islam, Bolehkah? (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Bagaimana hukum menggunakan kartu kredit? Meski telah banyak digunakan, namun banyak orang belum memahami hukumnya dalam Islam. Di zaman yang serba digital ini, kartu kredit marak digunakan karena dinilai mudah dan praktis. 

Pada umumnya, pembayaran kartu kredit merupakan pembayaran yang dibayarkan secara bertahap melalui serangkaian proses dan komitmen yang terjalin antara kedua belah pihak. Banyak orang menggunakan kartu kredit karena memudahkan transaksi. Tak sedikit juga umat Muslim yang menggunakannya.

Lantas, bagaimana hukum menggunakan kartu kredit dalam Islam? Dilansir dari berbagai sumber, IDXChannel merangkum penjelasannya sebagai berikut. 

Hukum Menggunakan Kartu Kredit dalam Islam

Kartu kredit atau credit card adalah jenis kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual beli barang atau jasa dimana pelunasan atau pembayarannya dapat dilakukan dengan sekaligus atau dengan cara mencicil sejumlah nominal tertentu. 

Menurut Ustadz Yahya Zainul Ma’arif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV menjelaskan bahwa menggunakan kartu kredit dipahami sebagai utang untuk membayar sesuatu, kemudian akan dibayar pada waktu yang telah ditentukan. Dalam proses transaksinya, ada unsur yang mengandung riba jika terjadi penambahan biaya ketika ada denda keterlambatan. 

“Yang menjadi riba bukan masalah orang yang meminjamkannya, yang menjadi riba adalah tambahannya. Jadi kalau kita menggunakan kartu kredit misalnya 10 juta, kalau bayarnya 10 juta maka tidak dianggap sebagai riba. Ini merupakan tolong menolong yang baik", jelas Buya Yahya seperti dikutip IDXChannel (23/6/22).

Sementara itu, dilansir dari muslim.or.id, hukum kartu kredit ini dijelaskan oleh Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ dalam Fatwa No. 5832 (13/523). Kesepakatan pelunasan pinjaman antara yang berutang (peminjam) dan yang menyediakan pinjaman (perusahaan kartu kredit) yang disertai biaya atau denda keterlambatan maka masuk dalam akad berbau riba. 

Akad ini termasuk dalam riba fadhl yakni riba karena adanya penambahan. Tak hanya itu, akad ini juga masuk dalam riba nasi’ah yakni riba karena adanya penanggungan pembayaran. Hal yang sama juga berlaku jika perusahaan membayar uang dan mengambil tambahan padanya sebagai imbalan atas pelayanan ini. 

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika transaksi kartu kredit mengandung beberapa komitmen berbau riba yang intinya mengharuskan pemegang kartu untuk membayar bunga-bunga riba atau denda-denda finansial bila terlambat menutupi hutangnya. Selain itu, ada juga biaya tambahan yang dikenakan apabila melakukan penarikan tunai. Dengan demikian hukum menggunakan kartu kredit yang menerapkan praktik tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD