Cecep pun memaparkan, tinggi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk. Di wilayah paling timur, yakni Jayapura, tinggi hilal tercatat minus 2 derajat 24 menit 43 detik atau sekitar minus 2,41 derajat.
Sementara di wilayah paling barat, Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, tinggi hilal mencapai minus 0 derajat 55 menit 41 detik atau sekitar minus 0,93 derajat.
Cecep menerangkan, kondisi hilal yang masih negatif ini dipengaruhi oleh waktu terjadinya ijtima (konjungsi) yang berlangsung pada pukul 19.01.07 WIB. Sementara waktu magrib di Indonesia terjadi sebelum ijtima, sehingga posisi hilal saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk.
“Lalu, bagaimana peta ketinggian hilal matahari di Indonesia. Tinggi Hilal di Indonesia, paling timur itu di Jayapura -2 derajat 24 menit 43 detik atau lebih sederhana -2,41 derajat sampai yang paling barat Tuapejat di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat minus 0 derajat 5541 detik sure atau minus 0,93 derajat. Yang menarik ijtima terjadi pada 19.01.07. Jadi wajar negatif? Kenapa karena magrib itu sebelum Ijtima makanya negatif,” kata Cecep.
Dengan demikian, secara hisab, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Namun, kepastian resminya tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang akan diumumkan oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.
“Ini hisab sifatnya informatif kita memerlukan konfirmasi verifikasinya adalah yang tentu saja yang kita nantikan nanti untuk bahan untuk penetapan Sidang Isbat pada malam ini,” ujarnya.
(Dhera Arizona)