AALI
9950
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
790
ACES
1495
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1670
ADHI
1080
ADMF
8225
ADMG
163
ADRO
1180
AGAR
446
AGII
1175
AGRO
1005
AGRO-R
0
AGRS
320
AHAP
78
AIMS
288
AIMS-W
0
AISA
286
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
462
AKRA
3170
AKSI
0
ALDO
705
ALKA
240
ALMI
226
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/04/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
481.26
-0.43%
-2.10
IHSG
6064.27
-0.36%
-21.99
LQ45
904.07
-0.4%
-3.60
HSI
28967.83
-0.01%
-1.88
N225
29646.28
-0.13%
-37.09
NYSE
16186.29
0.43%
+69.49
Kurs
HKD/IDR 1,876
USD/IDR 14,590
Emas
835,960 / gram

OJK Ungkap Berbagai Tantangan Ekonomi Syariah di Indonesia

SYARIAH
Shelma Rachmahyanti/Sindo
Selasa, 06 April 2021 11:46 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
OJK Ungkap Berbagai Tantangan Ekonomi Syariah di Indonesia (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Namun, terdapat beberapa tantangan yang harus diselesaikan untuk memanfaakan potensi besar tersebut.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana menuturkan, pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia itu tinggi. Di mana, pada tahun 2019 tercatat sebesar 5,72 persen dan berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) 2019 sebesar 5,02 persen.

Diketahui, Indonesia sebagai negara kepulauan lebih dari 87 persen populasi atau setara dengan 230 juta penduduk Indonesia adalah umat Islam.

“Industri halal Indonesia semakin meningkat. Ditunjukkan dengan nilai perdagangan industri halal di tahun 2020 telah mencapai USD 3 miliar dengan tren yang meningkat,” tuturnya dalam acara IDX Channel Sharia Fair 2021 Sesi III, Selasa (6/4/2021).

Dia menjelaskan, untuk memaksimalkan potensi yang ada terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi ke depannya. Di antaranya, keuangan syariah belum sepenuhnya terintegrasi dengan ekosistem industri halal.

“Hal ini mempengaruhi peningkatan market share keuangan syariah yang terbatas. Di mana, pada Januari 2021 masih sebesar 10% dari aset industri keuangan nasional,” jelas Djustini.

Berikutnya, permodalan yang terbatas. Diketahui, terdapat enam bank syariah yang memiliki modal inti di bawah Rp2 triliun dari total 14 bank umum syariah per Desember 2020.

Lanjut dia, terkait terbatasnya sumber daya. Hal ini antara lain disebabkan oleh kebutuhan sumber daya manusia yang handal dan memiliki potensi tinggi di bidang perbankan syariah yang dinilai masih rendah.

Selanjutnya, competitiveness produk dan layanan keuangan syariah yang belum setara dibandingkan keuangan konvensional. Menurutnya, dalam hal ini diversifikasi produk keuangan syariah yang bisnis matching menjadi hal yang sangat krusial. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD