IDXChannel - Produksi minyak mentah dari ladang-ladang di selatan Irak telah turun 70 persen sejak dimulainya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran.
Produksi harian rata-rata hanya 1,3 juta barel, dibandingkan dengan 4,3 juta barel per hari sebelum perang dimulai.
“Penyimpanan minyak mentah telah mencapai kapasitas maksimum. Sisa produksi setelah pengurangan besar-besaran akan digunakan untuk memasok kilang-kilang minyak negara,” kata seorang pejabat dari Basra Oil Company, dilansir dari Reuters pada Senin (9/3/2026).
Irak adalah negara Teluk pertama yang melakukan pengurangan produksi karena gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan langkah serupa tak lama kemudian.
Irak masih memuat minyak mentah untuk ekspor, tetapi jauh dari tingkat sebelumnya, menurut laporan Reuters.