"Pertama adalah visi yang strategis, dengan menyelaraskan kapabilitas AI dengan strategi organisasi. Kedua, melalui people, process, culture dengan membagikan praktik terbaik AI ke seluruh anggota badan/lembaga/organisasi," sambung Andrew.
Ketiga, melalui risk and compliance, dengan memastikan para tim penanganan risiko berkolaborasi dengan tim teknologi untuk mengatur AI. Keempat, adalah melalui investment financing, karena investasi AI mengandung ketidakpastian, maka fleksibilitas finansial untuk mendukung percobaan adalah kunci.
"Yang kelima adalah data governance, karena data governance ini menjadi kunci untuk memastikan penggunaan AI secara etis dan juga kepatuhan terhadap persyaratan legal," kata Andrew.
(NIY)