Fink mengatakan AI akan terus ada dan menjadi inti persaingan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan China.
“AS jelas melihat bahwa kepemimpinan dalam AI bukan pilihan, dan membutuhkan investasi berkelanjutan, dalam riset, infrastruktur, talenta, serta pasar modal yang mampu membiayai inovasi dalam skala besar," tuturnya.
Investor kini semakin waspada bahwa adopsi AI yang cepat dapat mengganggu model bisnis yang sudah mapan, terutama di sektor perangkat lunak lama dan jasa, di mana otomatisasi dan pemain baru berbasis AI berpotensi menekan harga dan pertumbuhan.
Ketidakpastian mengenai seberapa cepat perusahaan dapat beradaptasi, serta siapa yang akan menjadi pemenang, turut meningkatkan volatilitas valuasi dan menekan sebagian sektor teknologi.
"Satu hal yang jelas, AI akan menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Tantangan sekaligus peluangnya adalah memastikan partisipasi terhadap pertumbuhan tersebut juga semakin luas," ujar dia.
(NIA DEVIYANA)