Sebagian besar valuasi Tesla yang mencapai sekitar USD1,39 triliun atau sekitar Rp23,57 triliun kini dinilai sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap teknologi mengemudi otonom dan robot humanoid, meskipun pendapatan dan laba utama perusahaan masih didominasi penjualan kendaraan listrik.
Pada Desember lalu, Musk mengungkapkan bahwa Tesla telah menguji robotaxi tanpa pengawas keselamatan di kursi penumpang depan.
Tahun lalu, perusahaan juga meluncurkan layanan robotaxi terbatas di Austin, Texas, menggunakan SUV Model Y yang dilengkapi perangkat lunak Full Self‑Driving, dengan operasi yang masih dibatasi wilayah dan melibatkan monitor keselamatan manusia.
Musk sebelumnya menyebut proyek robot humanoid Optimus sebagai pilar utama strategi jangka panjang Tesla, bahkan berpotensi melampaui bisnis kendaraan listriknya. Ia menilai robot tersebut dapat membuka nilai ekonomi baru dengan mengambil alih berbagai pekerjaan yang tidak ingin dilakukan manusia. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)