Salah satu sumber menyebutkan kebutuhan tersebut mendorong pengembangan perangkat keras baru yang pada akhirnya diperkirakan dapat memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan komputasi inferensi OpenAI di masa depan.
Pembuat ChatGPT itu juga disebut telah berdiskusi dengan sejumlah startup, termasuk Cerebras dan Groq, untuk mendapatkan chip dengan kemampuan inferensi yang lebih cepat. Namun, menurut salah satu sumber, Nvidia kemudian mencapai kesepakatan lisensi senilai USD20 miliar atau sekitar Rp336 triliun dengan Groq, yang menutup pembicaraan OpenAI.
Pada September lalu, Nvidia menyatakan niatnya untuk menggelontorkan investasi hingga USD100 miliar (Rp1.680 triliun) ke OpenAI sebagai bagian dari kesepakatan yang akan memberikan Nvidia kepemilikan saham di perusahaan rintisan tersebut sekaligus menyediakan dana bagi OpenAI untuk membeli chip canggih.
(NIA DEVIYANA)