Tekanan industri juga tercermin dari langkah GM yang baru-baru ini mengumumkan penghapusan nilai aset senilai USD6 miliar pada beberapa investasinya di sektor EV. Langkah tersebut menyusul keputusan sejumlah produsen otomotif global yang mulai menahan ekspansi EV akibat permintaan yang mendingin.
LGES sebelumnya juga melaporkan pembatalan kontrak baterai senilai 9,6 triliun won (Rp110,98 triliun) dengan Ford, setelah produsen mobil asal AS itu memangkas prospek pasar EV. Kontrak lain senilai 3,9 triliun won (Rp45,08 triliun) dengan Freudenberg Battery Power Systems turut dibatalkan.
Untuk meningkatkan efisiensi, LGES berencana menjual sebagian aset pabriknya di AS kepada Honda Motor. Perusahaan juga disebut tengah mempertimbangkan penghentian sementara operasi pabrik baterai usaha patungan dengan GM di AS, yang berpotensi menimbulkan kerugian tambahan hingga 1 triliun won (Rp11,56 triliun), menurut catatan NH Investment & Securities.
Adapun LG Energy Solution dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan final kuartal IV-2025 pada 29 Januari mendatang, yang akan menjadi perhatian investor di tengah ketidakpastian arah industri kendaraan listrik global. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)