Sikap serupa juga diperkirakan diambil oleh European Central Bank dan Bank of England, meskipun keduanya masih membuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi berlanjut.
Kenaikan harga energi akibat gangguan pasokan dinilai berpotensi menghambat upaya bank sentral dalam menstabilkan ekspektasi inflasi jangka panjang.
Inflasi di kawasan euro bahkan mulai kembali mendekati level 3 persen, seiring tekanan biaya energi yang meningkat.
Pelaku pasar pun bersiap menghadapi nada kebijakan yang cenderung hawkish, di mana bank sentral ingin menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga merupakan langkah strategis, bukan sinyal pelonggaran moneter.
Di luar negara maju, dinamika ekonomi menunjukkan perbedaan yang semakin mencolok. Aktivitas manufaktur di Asia masih menunjukkan ketahanan yang rapuh, sementara tekanan inflasi di Amerika Latin terutama di Brasil dan Chile cenderung lebih tinggi dibandingkan negara-negara G7.