Penerapan program sosialisasi ke depan akan difokuskan secara masif dengan menyasar kelompok masyarakat berpendidikan menengah ke bawah. Otoritas berupaya mengemas materi komunikasi penjaminan dalam bentuk yang jauh lebih inklusif dan membumi agar mudah dicerna oleh kalangan akar rumput.
"Kami menggunakan analisis Z-score dan metode chi-square untuk memetakan disparitas pemahaman, dan ke depan edukasi kami buat dalam pola sederhana yang didekatkan ke masyarakat seperti hadir di pasar, koperasi, BPR, serta menyasar rata-rata pendidikan SMA ke bawah," tutur Anggito.
Penetrasi kampanye ini juga didorong untuk memperkuat pengenalan payung hukum penjaminan polis asuransi yang akan resmi bergulir dalam beberapa tahun ke depan. Keberhasilan program jangka panjang ini diharapkan tidak hanya sekadar membuat masyarakat tahu, melainkan juga menumbuhkan rasa tenang dalam menempatkan likuiditas mereka di sistem keuangan nasional.
"Pesan utama kami adalah selalu sebut simpanan Anda dijamin LPS, sebab pengenalan terhadap lembaga ini masih belum kuat, dan edukasi harus dibuat lebih gampang serta didekatkan dengan masyarakat agar nasabah paham perlindungannya, termasuk dalam penjaminan polis asuransi baru yang rasionya masih 12,47 persen karena belum dilaksanakan," kata Anggito.
(NIA DEVIYANA)