Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Dari sisi digital, hingga akhir Juni 2026 jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta pengguna, dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan. Sementara itu, pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu pengguna, dengan volume transaksi meningkat 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.
BNI juga memperkuat produktivitas jaringan melalui implementasi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) yang telah diterapkan di seluruh wilayah operasional perseroan. Program tersebut memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengatakan hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi mulai dari segmen korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.
Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur. Dari sisi pendanaan, CASA BNI tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga rasio CASA terjaga pada level 65,4 persen. Kondisi tersebut turut meningkatkan efisiensi biaya dana, tercermin dari cost of fund dana pihak ketiga yang membaik menjadi 2,56 persen dari sebelumnya 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.