Meski demikian, kondisi moneter Jepang masih tergolong longgar. Tingkat suku bunga riil tetap berada di wilayah negatif karena inflasi konsumen telah melampaui target 2 persen BOJ selama hampir empat tahun berturut-turut.
Pasar kini mencermati laporan prospek triwulanan BOJ yang akan dirilis dalam pertemuan kebijakan pada 22–23 Januari mendatang. Laporan tersebut dinilai krusial untuk melihat pandangan dewan kebijakan terkait dampak inflasi akibat pelemahan nilai tukar yen.
Melemahnya yen telah mendorong kenaikan biaya impor dan inflasi yang lebih luas, sehingga memicu seruan dari sejumlah anggota dewan BOJ untuk melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap. Pada perdagangan Senin, dolar AS menguat 0,2 persen ke level 157,08 yen, setelah sempat menyentuh 157,255 yen, tertinggi sejak 22 Desember.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan juga mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bond (JGB) tenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi dalam 27 tahun di 2,125 persen.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa Jepang kini berada pada fase krusial dalam transisi menuju ekonomi yang didorong oleh pertumbuhan, setelah bertahun-tahun terjebak dalam tekanan deflasi. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)