Dari sisi pendanaan, BRI berhasil memperbaiki struktur dana murah atau CASA yang tumbuh 13,2 persen. Hal ini berdampak pada efisiensi biaya dana (cost of fund) yang turun dari 3 persen menjadi 2,3 persen.
"BRI tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Tumbuh saja mungkin mudah, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan berkualitas adalah hal yang harus dikelola dengan baik," kata Hery.
Kualitas aset BRI juga menunjukkan tren perbaikan dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang turun ke level 9,7 persen dari sebelumnya 11,1 persen. Perbaikan manajemen risiko ini mendorong kenaikan Return on Equity (ROE) menjadi 18,4 persen.
Sebelumnya, pada 10 April 2026, BRI juga telah memutuskan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 dengan total fantastis mencapai Rp52,102 triliun atau Rp346 per lembar saham.
"Dengan dividend payout ratio sekitar 92 persen, hal ini mencerminkan komitmen BRI dalam menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil yang menarik... tetapi juga penguatan fundamental perusahaan," ujarnya.
Adapun membukukan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan raihan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun. Capaian yang tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year-on-year) ini diraih di tengah eskalasi risiko global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
(NIA DEVIYANA)