Dia mengatakan, likuiditas yang lebih ample akan memperlancar transmisi kebijakan fiskal pemerintah langsung ke masyarakat dan dunia usaha.
Sejauh ini, BRI mengelola total dana SAL sebesar Rp80 triliun, yang terdiri dari alokasi utama Rp55 triliun (bagian dari program Rp200 triliun Himbara) dan alokasi fase kedua sebesar Rp25 triliun yang bersifat jangka pendek (short term). Seluruh dana tersebut telah ditransformasikan menjadi pinjaman kepada debitur di berbagai segmen.
Khusus untuk BRI, porsi penyaluran terbesar diarahkan untuk menyokong ekonomi kerakyatan seperti segmen mikro mendominasi hampir 50 persen dari total penyaluran SAL. Kemudian segmen lainnya yaitu Small Medium Enterprise (SME), Konsumer dan Korporasi.
Sementara dari sektor ekonomi difokuskan pada sektor riil seperti perdagangan besar/eceran, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Dengan perpanjangan tenor SAL, Farida optimistis pertumbuhan kredit perbankan akan makin meningkat. Namun, dia juga menekankan pertumbuhan tersebut tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana (supply), tetapi juga permintaan dari sektor riil (demand).
(Rahmat Fiansyah)