“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam
ini,” katanya.
Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami.
"Melalui pelatihan wastra warna alam Bakti BCA, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur. Para penenun diperkenalkan pada bahan-bahan alami serta tahapan pengolahan hingga penerapannya pada benang dan kain, sehingga mampu menguasai proses produksi secara lebih utuh," katanya.
Ilmu yang diperoleh dari program ini membantu para penenun menghasilkan karya bernilai tambah yang menjadi sumber penghasilan dan cuan. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat nilai budaya wastra Sumba, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.
Diana berharap ke depannya kain tenun Sumba bisa memiliki nilai ekonomi, setelah sebelumnya hanya identik sebagai cenderamata dan perlengkapan upacara adat seperti pernikahan dan kematian.