IDXChannel - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinobatkan sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Asia 2025 oleh Time Out Asia. Selain keindahan alam, Sumba juga mempunyai warisan budaya salah satunya kain tenun. Tenun Sumba dikenal dengan teknik ikat dan penggunaan pewarna alami, seperti indigofera untuk warna biru, akar mengkudu untuk warna merah, serta bahan alam lain yang menghasilkan warna gelap dan hangat.
Motifnya banyak terinspirasi dari kehidupan dan kepercayaan masyarakat Sumba, antara lain hewan seperti kuda dan rusa. Tenun ini tidak hanya berfungsi sebagai kain, tetapi juga mencerminkan identitas dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
"Menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia," kata Penenun asli Sumba Diana Kalera Lena saat berbicara pada siniar di mini studio BCA Expoversary 2026, Kamis (5/2/2026).
Perempuan yang sudah menenun sejak usia 6 tahun itu menambahkan, menenun kain itu membutuhkan ketekunan dan dedikasi waktu.
"Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang," kata dia.
Lekatnya keterikatan tradisi menenun dengan kehidupan dan identitas perempuan di Sumba tidak lepas dari perhatian Bakti BCA, payung program corporate shared value (CSV) dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Melalui program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA memberikan pembinaan kepada kelompok penenun di Sumba dengan menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut.
Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari empat komunitas, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25 - 45 tahun. Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan pria sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam.
Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya dengan Bakti BCA. Dia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.
Menurut Diana, keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam
ini,” katanya.
Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami.
"Melalui pelatihan wastra warna alam Bakti BCA, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur. Para penenun diperkenalkan pada bahan-bahan alami serta tahapan pengolahan hingga penerapannya pada benang dan kain, sehingga mampu menguasai proses produksi secara lebih utuh," katanya.
Ilmu yang diperoleh dari program ini membantu para penenun menghasilkan karya bernilai tambah yang menjadi sumber penghasilan dan cuan. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat nilai budaya wastra Sumba, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.
Diana berharap ke depannya kain tenun Sumba bisa memiliki nilai ekonomi, setelah sebelumnya hanya identik sebagai cenderamata dan perlengkapan upacara adat seperti pernikahan dan kematian.
Dia juga berharap dengan pendampingan Bakti BCA, komunitas penenun di Sumba bisa menarik perhatian dunia terhadap adanya warisan budaya leluhur yang sampai kini terus terjaga.
"Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentunya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” kata Diana.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, Bakti BCA tidak hanya berupaya memberikan dampak untuk individu dan komunitas. Lebih dari itu, Bakti BCA berupaya mempermudah akses produk-produk yang dihasilkan komunitas agar semakin dikenal banyak orang, dan meluas pasarnya.
Menurut Hera, para penenun Sumba sebagai tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia harus mendapatkan dukungan. Melalui program pembinaan dari Bakti BCA, perusahaan ingin memastikan keahlian penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern.
"Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para perajin lokal,” kata Hera.
(Nur Ichsan Yuniarto)