Ia menambahkan, pelemahan rupiah secara tidak langsung juga memberikan efek tambahan terhadap nilai CASA dalam denominasi rupiah, sehingga turut memperkuat neraca bank.
Fenomena ini menunjukkan bahwa peran bank kini tidak lagi sekadar sebagai intermediary tradisional, tetapi juga berkembang menjadi platform manajemen risiko bagi nasabah.
Di sisi lain, keunggulan bank besar juga ditopang oleh dominasi dalam sistem pembayaran yang terintegrasi. Infrastruktur payment gateway yang kuat menciptakan hubungan yang erat antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit, khususnya di segmen konsumsi. Model ini dinilai efektif dalam menjaga kualitas aset sekaligus menekan potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL).
Dari perspektif investasi, saham perbankan besar masih memiliki daya tarik, terutama untuk strategi akumulasi jangka panjang ketika volatilitas pasar mulai mereda.
Sementara itu, dinamika perilaku nasabah juga menunjukkan pergeseran. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengindikasikan bahwa deposan kecil cenderung mengurangi simpanan, sedangkan deposan besar justru mengalami pertumbuhan. Hal ini mencerminkan kecenderungan kelompok dana besar untuk menahan likuiditas di tengah ketidakpastian.
Dalam konteks tersebut, segmentasi layanan premium menjadi semakin relevan. Perbankan tidak hanya menawarkan layanan eksklusif, tetapi juga memposisikan diri sebagai tempat yang fleksibel untuk kebutuhan lindung nilai bagi nasabah dengan dana besar.
“Segmen nasabah prioritas menjadi bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap melihat bank sebagai tempat yang aman untuk mengelola risiko,” kata Yanuar.
(Shifa Nurhaliza Putri)