Ia menyebut bahwa bagi perusahaan seperti TUGU, fokus utama adalah pada kecukupan modal yang solid serta kemampuan membagi risiko melalui kemitraan dengan reasuradur yang kredibel.
Cliff optimistis bahwa TUGU memiliki kerangka manajemen risiko yang prudent, tercermin dari tingkat Risk-Based Capital (RBC) yang tinggi dan berada di atas rata-rata industri. Selain itu, kemitraan dengan reasuradur global terkemuka menjadi faktor penting dalam menjaga kapasitas underwriting dan stabilitas keuangan.
“Sejauh ini RBC selalu di atas 120 persen dan di atas rata-rata industri, reasuradurnya pun minimal mendapat rating A- dan juga tidak terkonsentrasi. Setidaknya aspek-aspek ini yang membuat pasar yakin bahwa TUGU memiliki kapabilitas yang baik untuk menghadapi tahun 2026 yang menantang.
Di sisi lain, Cliff juga mengingatkan volatilitas pasar keuangan turut menjadi perhatian. Pendapatan investasi berpotensi terdampak karena valuasi aset dipengaruhi oleh arus keluar dana asing di pasar saham dan obligasi domestik, yang dapat mempengaruhi kinerja portofolio investasi.
Menurut Cliff, kunci dalam menghadapi kondisi tersebut adalah penerapan strategi alokasi aset yang selektif, menjaga kesesuaian antara aset dan liabilitas jangka pendek, serta melakukan lindung nilai terhadap risiko nilai tukar. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas kinerja secara keseluruhan di tengah ketidakpastian pasar.