Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, cadangan devisa negara masih cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar ke depan.
Menurutnya, pelemahan rupiah disebabkan oleh kondisi geopolitik hingga kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. Selain itu juga terjadi fenomena aliran modal keluar dari negara berkembang ke negara-negara maju.
"Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pada Rabu (21/1/2026).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah tidak akan menekan bank sentral untuk membiayai program pembangunan.
Dia menilai, pelemahan rupiah secara persentase masih relatif kecil dan sistem keuangan nasional telah cukup terbiasa menghadapi volatilitas nilai tukar.