AALI
9650
ABBA
248
ABDA
0
ABMM
2350
ACES
785
ACST
168
ACST-R
0
ADES
7125
ADHI
800
ADMF
8050
ADMG
175
ADRO
2870
AGAR
320
AGII
2080
AGRO
700
AGRO-R
0
AGRS
121
AHAP
57
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
150
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1500
AKRA
1035
AKSI
294
ALDO
875
ALKA
296
ALMI
306
ALTO
202
Market Watch
Last updated : 2022/06/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
531.18
-1.2%
-6.43
IHSG
6942.35
-0.77%
-54.11
LQ45
995.71
-1.18%
-11.93
HSI
21996.89
-1.88%
-422.08
N225
26804.60
-0.91%
-244.87
NYSE
14667.32
-1.13%
-167.98
Kurs
HKD/IDR 1,890
USD/IDR 14,848
Emas
867,193 / gram

Uang Nasabah di Pangkalan Bun Raib Korban Soceng, Ini Kronologinya

BANKING
Sigit Dzakwan/MNC Media
Selasa, 21 Juni 2022 12:43 WIB
Pihak bank pelat merah menjelaskan penyebab raibnya uang nasabahnya di Pangkalan Bun. Nasabah tersebut mejadi korban kejahatan social engineering (soceng).
Uang Nasabah di Pangkalan Bun Raib Korban Soceng, Ini Kronologinya (FOTO: MNC Media)
Uang Nasabah di Pangkalan Bun Raib Korban Soceng, Ini Kronologinya (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pihak bank pelat merah menjelaskan penyebab raibnya uang nasabahnya di Pangkalan Bun. Nasabah tersebut mejadi korban kejahatan social engineering (soceng).

“Yang bersangkutan diindikasikan merupakan korban tindak kejahatan social engineering, sehingga nasabah memberikan data perbankan yang bersifat pribadi dan rahasia kepada pihak lain. Tindak kejahatan social engineering adalah aktivitas manipulasi psikologi untuk mengelabui pengguna perangkat lunak atau aplikasi media sosial agar ia membuat kesalahan keamanan atau memberikan informasi sensitif kepada pihak anonim,” jelas Pemimpin bank pelat merah Pangkalan Bun, Romanata kepada MNC Media, Selasa (21/6/2022).

Ia melanjutkan, pihaknya hanya menggunakan saluran resmi sebagai media komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas melalui Telepon : 14017 / 1500017 dan Whatsapp Sabrina : 08121214017. Dan masih banyak lagi  saluran resmi lainnya.

“Pihaknya sudah bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus kejahatan social engineering (soceng) ini,” tambahnya.


Ia menambahakan, pihaknya senantiasa mengimbau  nasabah agar lebih berhati-hati serta tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi dan data perbankan kepada orang lain atau pihak yang mengatasnamakan bank plat merah, termasuk memberikan informasi data pribadi maupun data perbankan (username, PIN, password, MToken, CCV/CVC) melalui tautan atau website dengan sumber tidak resmi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“BRI mengimbau kepada seluruh nasabah untuk waspada kepada segala bentuk modus penipuan dan kejahatan perbankan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sebelumnya, malang menimpa seorang dokter bedah senior di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng. Ia menjadi korban kejahatan siber dengan total kerugian Rp274 juta lebih pada 6 Juni 2022 lalu.

“Saya berdoa, selain pembelajaran berharap pelaku bisa disisir Bareskrim dan Bank .. karena ada nama , nomor rekening dan nomor. Saya hanya bisa pasrah dan ikhlas. Jika memang rejeki saya uang itu akan kembali. Namun jikapun tidak itu saya kembalikan kepada Tuhan YME,” ujar dr Binsar Parhusip saat ditemui MNC Media di ruang Meranti RS Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Rabu 8 Juni 2022 siang.

Ie menceritakan kronologis dari awal, saat itu Senin 6 Juni 2022 sekitar pukul 15.24 WIB dirinya sedang bertugas di rumah sakit swasta di Jalan Malijo  Pangkalan Bun. Saat itu ia mendapat panggilan telepon dari whatsapp dengan nomor  +1 (626)988-1396  dengan logo bank plat merah tersebut.

“Awalnya saya mendapat telepon dari seseorang yang tidak saya kenal dengan nomor  +1 (626)988-1396 mengaku dari Bank pusat menawarkan perubahan biaya transaksi transfer dari Rp6.500 per transaksi menjadi Rp150 ribu per bulan dan saya bilang tidak mau per bulan tapi tetap saja ngejar terus,” ujar dr Binsar bercerita.

Ia melanjutkan, penelpon tersebut terus memaksa dirinya  menawarkan biaya transaksi transfer tersebut. “Setelah selesai telepon selanjutnya pelaku kirim pesan via WA dan mengirimkan sebuah link. Dari link itulah saya buka dan kembali dikirim ke pelaku.”

Tak berapa lama, lanjut dia, karena saat itu dirinya sedang sibuk bertugas di rumah sakit muncul notifikasi transaksi di SMS banking  berkali kali hingga total 9 transaksi transfer. Nilainya mulai Rp100 juta, Rp90 juta, Rp25 juta dan sebagian nilainya Rp10 juta ada 5-6 transaksi. Dan itu ditransfer ke bank yang sama, bank lain dan ke OVO.

“Saya sadar saya telah ditipu dan langsung saya telepon Call Center dan saya sudah bilang ada 4 ATM saya yang harus saya blokir karena baru sadar saya telah ditipu,” ujar dia.

Pada Senin 6 Juni 2022 malam, dirinya sudah melaporkan kasus tersebut ke Polres Kobar.

“Saya sudah lapor ke pihak kepolisian dan pihak bank plat merah di Pangkalan Bun. Saya berharap ada mujizat uang saya kembali. Semoga pelakunya bisa dicari oleh Bareskrim POLRI. Sebab data no HP dan no rekening penerima ada di file transaksi.” tutupnya. (RRD)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD