AALI
9775
ABBA
390
ABDA
0
ABMM
1465
ACES
1255
ACST
232
ACST-R
0
ADES
2830
ADHI
995
ADMF
7700
ADMG
196
ADRO
1805
AGAR
340
AGII
1495
AGRO
1990
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
67
AIMS
460
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4110
AKSI
418
ALDO
1070
ALKA
244
ALMI
248
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2021/12/02 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
499.56
0.27%
+1.35
IHSG
6489.52
-0.28%
-18.16
LQ45
933.18
0.18%
+1.64
HSI
23714.81
0.24%
+55.89
N225
27818.84
-0.42%
-116.78
NYSE
16133.89
-1.13%
-185.08
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,350
Emas
821,641 / gram

Selamatkan Ekonomi, Saatnya Kesejahteraan Petani Diangkat

ECONOMIA
Rabu, 17 Februari 2021 21:15 WIB
BPS meminta agar sektor pertanian perlu diperhatikan karena menjadi komponen penting yang menyelamatkan pertumbuhan ekonomi tanah air.
Kesejahteraan petani harus diperhatikan. (Foto: MNC Media)
Kesejahteraan petani harus diperhatikan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menegaskan, sektor pertanian perlu diperhatikan karena menjadi komponen penting yang menyelamatkan pertumbuhan ekonomi tanah air. Karena itu, saatnya pemerintah dan semua elemen terkait untuk memperhatikan kesejahteraan petani.

“Keberhasilan sektor pertanian di tengah pandemi ini tentu harus disyukuri dengan memperhatikan ketahanan sektor pertanian saat krisis moneter tahun 1998 dan juga saat pandemi yang selalu menjadi sektor penyelamat. Saya pikir kita semua harus memberikan perhatian yang lebih kepada sektor pertanian di masa depan,” tegasnya hari ini (17/2/2021) dalam diskusi online Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) di Jakarta.

Kebijakan ke depan diharapkan tidak hanya berfokus pada output atau produksi tetapi juga mampu mengangkat kesejahteraan pelakunya yakni para petani Indonesia. Menurutnya, untuk bisa membuat kebijakan lebih fokus ke depan perlu mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh para petani.

Lanjut dia, terdapat lima persoalan yang dihadapi para petani Indonesia. Pertama, SDM di sektor pertanian yang kurang menguntungkan. Kedua, harga yang selalu jatuh di saat panen. Ketiga, nilai tukar petani rendah. Keempat, upah riil buruh tani yang cenderung melemah. Dan kelima yakni kemiskinan terpusat di perdesaan. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD