AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/05/13 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
27718.67
0%
0.00
N225
27448.01
0%
0.00
NYSE
16181.63
-1.06%
-173.99
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,198
Emas
838,980 / gram

106 Ribu Ton Beras Turun Mutu, Bulog: Itu Masih Wajar!

ECONOMICS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Senin, 29 Maret 2021 19:04 WIB
Perum Bulog mencatat ada 106.000 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mengalami turun mutu.
106 Ribu Ton Beras Turun Mutu, Bulog: Itu Masih Wajar! (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Perum Bulog mencatat ada 106.000 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mengalami turun mutu. Hal tersebut dinilai lumrah.  

Beras tersebut merupakan eks impor yang dilakukan pada 2018 lalu. Dimana, saat itu secara akumulatif jumlah yang diimpor pemerintah sebanyak 2 juta ton. Direktur Utama Bulog, Budi Waseso menyebut, beras turun mutu tersebut tidak akan dimusnakan.  

"Memang beras eks impor memang ada, yang turun mutu 106.000 ton, bukan berarti itu dimusnakan, turun mutu itu wajar, dalam batas kewajaran. Artinya, tidak seperti pada saat beras itu tiba, karena pada saat kita simpan dan ini melalui proses perawatan," ujar Buwas, Senin (29/3/2021).  

Beras CBP tersebut akan dikonversi menjadi bahan pangan lain, misalnya tepung terigu. Meski begitu, Buwas memastikan, konversi akan diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang dilakukan pemerintah.  

"Yang 106.000 ton ini akan kita angkat dalam rakortas nanti, karena ini beras CBP, nanti keputusannya dari pemerintah. Mau dibuat tepung terigu, nanti mau dibuat apa? Nanti itu keputusan dari pemerintah," kata dia.  

Saat ini Bulog menyimpan sisa beras impor sebanyak 300.000 ton. 106.000 ton di antaranya mengalami penurunan mutu. Sebagian sisa beras eks impor masih tercatat aman. 

Buwas menyebut, sisa beras tersebut harusnya sudah turun mutu, karena secara alamiah mutu beras akan mulai menurun sejak 3-4 bulan usai disupply. Hanya saja, perawatan insentif yang dilakukan Bulog sehingga sebagian sisa eks impor masih dapat digunakan. 

"Kenapa masih bisa bertahan? Karena Bulog merawatnya dengan baik, jadi dengan perawatan Bulog yang kontinyu, sehingga ini masih bertahan, hanya memang tidak seperti pada saat beras itu tiba di Indonesia. Itu yang perlu kita sampaiakn," kata dia.  

Sebelumnya, Buwas mengutarakan bahwa sisa beras CBP menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Bulog. Padahal, perkara itu bukan bagian dari tanggung jawab perusahaan pelat merah tersebut. 

Bulog mencatat, ada sejumlah masalah yang dikaitkan dengan peran dan tugasnya sebagai lembaga pemerintah di sektor pangan itu. Selain sisa beras impor, perkara pengering gabah (dryer) di kalangan petani pun dikaitkan dengan Bulog. 

Buwas menegaskan, pengering gabah bukan menjadi tugas dari Bulog, namu tanggung jawab Kementerian Pertanian (Kementan). Namun, perkara ini seolah-olah dikaitkan dengan posisi Bulog.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD