Percepatan ini dimungkinkan karena para masinis merupakan masinis KAI yang telah berpengalaman mengemudikan kereta konvensional dengan jam terbang minimal 3.000 jam atau setara 100.000 kilometer perjalanan.
Tahapan ini menjadi bagian penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia sekaligus menegaskan kemandirian Indonesia dalam mengoperasikan kereta cepat pertama di Asia Tenggara.
Anne Purba menyampaikan, penyelesaian handover ini mencerminkan kematangan SDM nasional dalam mengelola layanan berteknologi tinggi.
“Sebanyak 574 SDM Indonesia kini mengelola 80 persen operasional Whoosh. Ini menunjukkan bahwa kompetensi dan disiplin tenaga nasional mampu memenuhi tuntutan layanan kereta cepat dengan standar keselamatan yang tinggi. Kami menargetkan pada tahun ini operasional dapat dijalankan sepenuhnya oleh tenaga lokal sekaligus terus menyerap tenaga lokal dalam penguatan layanan,” ujar Anne.