AALI
9625
ABBA
228
ABDA
0
ABMM
2380
ACES
790
ACST
169
ACST-R
0
ADES
7650
ADHI
830
ADMF
8050
ADMG
173
ADRO
2950
AGAR
324
AGII
2030
AGRO
735
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1060
AKSI
292
ALDO
845
ALKA
298
ALMI
292
ALTO
202
Market Watch
Last updated : 2022/06/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.66
-0.7%
-3.80
IHSG
6979.46
-0.52%
-36.59
LQ45
1003.93
-0.67%
-6.81
HSI
21999.91
-1.03%
-229.61
N225
26830.69
-0.15%
-40.58
NYSE
14835.30
0.16%
+23.75
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,799
Emas
868,113 / gram

AS Resesi Bahayakah Bagi Ekonomi Indonesia?

ECONOMICS
Ajeng Wirachmi/Litbang
Kamis, 23 Juni 2022 15:13 WIB
Pemerintah mewaspadai dampak ancaman resesi ekonomi di AS . Apalagi setelah Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan besaran bunga acuannya sebesar 75 basis poin.
AS Resesi Bahayakah Bagi Ekonomi Indonesia? (FOTO: MNC Media)
AS Resesi Bahayakah Bagi Ekonomi Indonesia? (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah mewaspadai dampak ancaman resesi ekonomi di Amerika Serikat (AS). Apalagi setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menaikkan besaran bunga acuannya sebesar 75 basis poin. 

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menjelaskan, kenaikan bunga acuan sebesar 75 basis poin ini sudah mengikis ketidakjelasan di pasar keuangan. Kenaikan bunga acuan oleh The Fed ini memberi sinyal kemungkinan terjadinya resesi ekonomi. Terlebih, ada sekitar 50 negara yang sudah menaikkan bunga acuannya hingga saat ini. 

Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sarman Simanjorang, apabila terjadi resesi ekonomi, dikhawatirkan akan berpengaruh dengan cadangan devisa. Hal ini karena terjadinya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia serta secara otomatis membuat nilai tukar rupiah semakin lemah.

Tak hanya itu, ekspor dan impor akan mengalami gangguan. Karenanya, diperlukan kerja sama antara pemerintah serta pengusaha untuk mencari pasar ekspor serta impor guna menjaga nilai ekspor agar tidak turun drastis. 

Kenaikan suku bunga The Fed ini juga rentan diikuti dengan kenaikan tingkat suku bunga pada negara berkembang. Diketahui, tidak semua konsumen serta pelaku usaha siap untuk menghadapi kenaikan suku bunga pinjaman. Hal ini berakibat permintaan konsumen rumah tangga dapat turun serta pelaku usaha akan terganggu dengan rencana ekspansi. 

Lalu, kinerja harga emas setelah keputusan The Fed ini bergerak mendatar serta cenderung naik. Sejauh ini harga emas berada di kisaran USD1.830 per ons troy. Menurut Analis DC Futures Lukman Leog, dalam waktu dekat masih akan terjadi tarik-menarik sentimen untuk emas. Kenaikan suku bunga acuan yang agresif oleh The Fed ini dapat membuat emas kurang menarik, di samping berpeluang terjadinya resesi. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dampak The Fed yang menaikkan suku bunga 75 basis poin bagi perekonomian. 

Menurutnya, dunia saat ini menghadapi tekanan dari kenaikan berbagai harga, mulai dari energi hingga pangan yang telah memberikan tekanan besar kepada kondisi ekonomi. Sri Mulyani mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed sudah diantisipasi sejak kenaikan inflasi. 

Pemerintah akan mengurangi eksposur dari utang dengan cara menurunkan defisit. Hal itu sejalan dengan konsolidasi fiskal, yaitu menurunkan defisit APBN di bawah tiga persen pada tahun depan. (RRD)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD