AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22229.52
2.35%
+510.46
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

Naikkan Suku Bunga, Bos The Fed Akui Resesi AS Bisa Terjadi

ECONOMICS
Michelle Natalia
Kamis, 23 Juni 2022 12:34 WIB
Ketua Federal Reserve (The Fed) mengakui potensi resesi AS selepas ada kenaikan suku bunga acuan yang diharapkan menekan inflasi.
Naikkan Suku Bunga, Bos The Fed Akui Resesi AS Bisa Terjadi (Dok.MNC)
Naikkan Suku Bunga, Bos The Fed Akui Resesi AS Bisa Terjadi (Dok.MNC)

IDXChannel - Ketua Federal Reserve atau The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral itu berkomitmen untuk memegang kembali kendali atas inflasi tanpa menimbulkan banyak kerusakan ataupun kerugian. 

Kendati demikian, dia mengakui bahwa The Fed hanya memiliki kuasa kecil dalam mengatasi gejala-gejala resesi, dimana yang paling terlihat di pom bensin atau supermarket.

Powell berbicara kepada Komite Perbankan Senat pada hari Rabu(22/6), seminggu setelah The Fed memerintahkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994. Bank sentral itu berada di bawah tekanan yang meningkat untuk memerangi inflasi, yang mencapai level tertinggi dalam empat dekade sebesar 8,6% pada Mei lalu.

"Kita perlu menurunkan inflasi ke 2%. Kami menggunakan alat-alat kami untuk melakukan itu. Dan publik harus percaya bahwa kami akan mengendalikan inflasi kembali ke 2% dari waktu ke waktu," ujar Powell kepada parlemen.

Senator Elizabeth Warren memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga mendadak dalam tarif pinjaman dapat menghasilkan lonjakan PHK, dan itu tidak banyak membantu mengatasi guncangan pasokan yang telah mendorong kenaikan harga bensin dan bahan makanan.

"Anda tahu apa yang lebih buruk dari inflasi tinggi dan pengangguran rendah? Ini inflasi tinggi dan resesi dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Saya harap Anda akan mempertimbangkannya kembali, sebelum Anda mendorong ekonomi ini ke jurang," tegas Warren.

Powell menekankan ekonomi berada pada posisi yang baik untuk menahan suku bunga yang lebih tinggi, meskipun dia mengakui bahwa perang di Ukraina dan masalah rantai pasokan yang masih ada akan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

"Ini secara pasti adalah kemungkinan. Ini sama sekali bukan hasil yang kami inginkan, tetapi masih sebuah kemungkinan. Kami tidak mencoba memprovokasi  dan tidak berpikir bahwa kami perlu memprovokasi resesi, tapi kami pikir sangat penting bahwa kami mengembalikan stabilitas harga, benar-benar untuk kepentingan pasar tenaga kerja dan hal lainnya," tambah Powell.

Ekonom-ekonom yang disurvei oleh Wall Street Journal menempatkan peluang resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 44%, naik dari 28% di bulan April.

Powell berpendapat bahwa memprediksi resesi sangat sulit, tetapi menambahkan bahwa dia tidak melihat risikonya terlalu tinggi. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD