AALI
9350
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
730
ACST
202
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
800
ADMF
8175
ADMG
176
ADRO
3140
AGAR
322
AGII
2260
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
112
AHAP
104
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1565
AKRA
1155
AKSI
270
ALDO
755
ALKA
292
ALMI
302
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.62
1.17%
+6.26
IHSG
7135.27
0.59%
+42.00
LQ45
1016.43
1.06%
+10.64
HSI
19765.62
-1.37%
-275.24
N225
28868.91
-0.01%
-2.87
NYSE
15794.33
-0.06%
-10.05
Kurs
HKD/IDR 190
USD/IDR 14,725
Emas
843,472 / gram

Imbas The Fed, Ekonom Minta BI Naikkan Suku Bunga

ECONOMICS
Michelle Natalia
Senin, 20 Juni 2022 13:13 WIB
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 1,5-1,75%.
Imbas The Fed, Ekonom Minta BI Naikkan Suku Bunga
Imbas The Fed, Ekonom Minta BI Naikkan Suku Bunga

IDXChannel - Dalam pengumuman kebijakan moneter Kamis (16/6) dini hari waktu Indonesia, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 1,5-1,75%. Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan bahwa ada beberapa dampak yang perlu diwaspadai dari kenaikan suku bunga AS oleh The Fed. 

"Pertama, keluarnya modal asing dipasar surat utang karena spread antara Yield SBN dan Yield Treasury di tenor yang sama semakin menyempit. Investor asing cenderung mengalihkan dana ke negara maju, memicu capital outflow di emerging market," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Senin(20/6/2022).

Kedua, sambung dia, penyempitan likuiditas karena bank dalam posisi mengejar pertumbuhan kredit yang tinggi paska pandemi melandai tapi terhalang oleh kenaikan tingkat suku bunga. 

"Perebutan dana antara pemerintah dan bank dalam menjaga tingkat pembiayaan defisit anggaran akan membuat dana deposan domestik berpindah ke SBN. Crowding out sangat membahayakan kondisi likuiditas disektor keuangan," ungkapnya.

Ketiga, kenaikan suku bunga Fed rentan di ikuti kenaikan tingkat suku bunga di negara berkembang. Tidak semua konsumen dan pelaku usaha siap menghadapi kenaikan bunga pinjaman. 

"Imbasnya proyeksi permintaan konsumen rumah tangga bisa kembali menurun dan pelaku usaha akan terganggu rencana ekspansinya," tambah Bhima.

Keempat, Imported inflation akibat membengkaknya biaya impor bahan baku dan barang konsumsi. Situasi ini dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Indeks dollar mengalami kenaikan 8,7% secara year-to-date menjadi ke level 104,6. Beban biaya produksi terutama bagi perusahaan yang bahan baku nya bergantung pada impor dapat berisiko melemahkan PMI manufaktur.

"Bank Indonesia sebaiknya segera menaikkan tingkat suku bunga minimum 25 bps untuk antisipasi pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara jaring pengaman dari sisi fiskal dalam bentuk peningkatan bantuan sosial, subsidi pangan, hingga stabilitas harga energi didalam negeri menjadi sebuah kebutuhan," pungkas Bhima.

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD