AALI
9350
ABBA
284
ABDA
0
ABMM
2420
ACES
735
ACST
199
ACST-R
0
ADES
6125
ADHI
790
ADMF
8125
ADMG
176
ADRO
3140
AGAR
322
AGII
2270
AGRO
775
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
104
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
156
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1565
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
750
ALKA
292
ALMI
302
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.37
1.12%
+6.01
IHSG
7131.52
0.54%
+38.24
LQ45
1015.93
1.01%
+10.14
HSI
19765.62
-1.37%
-275.24
N225
28868.91
-0.01%
-2.87
NYSE
15794.33
-0.06%
-10.05
Kurs
HKD/IDR 190
USD/IDR 14,725
Emas
843,472 / gram

The Fed Naikkan Suku Bunga, Dunia Harus Bersiap Hadapi Resesi Ekonomi

ECONOMICS
Wahyudi Aulia Siregar
Kamis, 16 Juni 2022 17:27 WIB
Bank Sentral Amerika atau The Federal Reserve alias The Fed akhirnya memutuskan untuk menaikkan besaran bunga acuannya sebesar 75 basis poin.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Dunia Harus Bersiap Hadapi Resesi Ekonomi. (Foto: MNC Media)
The Fed Naikkan Suku Bunga, Dunia Harus Bersiap Hadapi Resesi Ekonomi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Bank Sentral Amerika atau The Federal Reserve alias The Fed akhirnya memutuskan untuk menaikkan besaran bunga acuannya sebesar 75 basis poin. Kenaikan ini membuat suku bunga acuan The Fed kini menjadi 1,75 persen. 

Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan bunga acuan sebesar itu telah mengkikis ketidapastian di pasar keuangan. Sehingga kinerja pasar keuangan bergerak dengan arah yang lebih jelas. 

"Meski demikian masalah belum usai, karena ada kemungkinan kenaikan bunga acuan The FED hingga 3,4 persen di tahun 2022 ini," sebutnya. 

Gunawan menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan yang sebesar 1,75 persen saat ini masih setengah jalan. Masih ada kemungkinan kenaikan lajutan. Torehan penguatan kinerja indeks bursa saham di banyak Negara termasuk Indonesia saat ini bukanlah konfirmasi kuat bahwa badai benar-benar sudah pergi.

"Kenaikan bunga acuan secara agresif oleh The FED ini jelas memberikan sinyal kuat kemungkinan terjadinya resesi ekonomi global dalam waktu dekat. Bahkan lebih dekat dari ekspektasi sebelumnya," sebut Gunawan. 

Terlebih saat ini sudah ada sekitar 50 negara yang sudah menaikkan bunga acuannya. Indonesia belum melakukan hal yang sama, namun bukan berarti Indonesia akan bisa menghindar dari ancaman resesi tersebut.

"Meskipun kita dinilai lebih siap jika berhadapan dengan resesi tersebut. Tetapi ancaman tingginya inflasi, serta peluang pertumbuhan ekonomi direvisi, berpeluang memicu terjadinya stagflasi di tanah air. Artinya kita tetap terimbas dari ancaman resesi global, dan kita masih terus dihantui dengan memburuknya kondisi ekonomi eksternal," jelasnya.

Sementara itu, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat tajam pada sesi perdagangan pertama. Seiring dengan penguatan bursa global. 

Namun sayangnya IHSG justru mengalami tekanan jual di sesi kedua. Meskipun masih mampu ditutup di zona positif, IHSG terpaksa harus mengurangi keuntungannya dan hanya ditututup naik 0,62 persen di level 7.050,33. 

"Padahal di sesi pertama IHSG sempat menguat 1,62 persen," tukasnya. 

Untuk mata uang Rupiah, sebut Gunawan,  diperdagangkan melemah di kisaran level 14.780 per US Dolar pada perdagangan hari ini. Nasib Rupiah tidak sebaik IHSG. Meski demikian pelemahan Rupiah pada hari ini bukan menjadi ancaman bagi BI. 

"Dengan kenaikan bunga acuan sebesar 75 basis poin yang dilakukan oleh The FED, dan jika melihat pelemahan Rupiah di 14.700-14.800, saya menilai pelemahan tersebut masih terbatas, belum memunculkan ancaman serius," pungkasnya. 

Di sisi lain, sambung Gunawan, kinerja harga emas pasca keptutusan The FED bergerak mendatar dengan kecenderungan naik. Harga emas sejauh ini berada di kisaran USD1.830 per ons troy.

"Harganya masih dikisaran 865 ribu per gram. Belum beranjak jauh dalam sepekan terakhir," tandasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD