Salah satu strategi yang ditempuh Garuda Indonesia adalah mengoptimalkan frekuensi penerbangan serta melakukan penyesuaian jadwal di sejumlah rute. Langkah ini diharapkan dapat menjaga produktivitas kapasitas penerbangan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Lebih lanjut, Glenny menegaskan kebijakan penyesuaian tarif ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dengan keterjangkauan layanan transportasi udara bagi masyarakat.
Di sisi lain, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mengapresiasi langkah pemerintah dalam merespons lonjakan harga avtur yang dipicu krisis geopolitik di Timur Tengah. Per April 2026, harga avtur dilaporkan meningkat rata-rata hingga 70 persen di berbagai wilayah Indonesia.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengatakan pemerintah telah menetapkan komponen fuel surcharge sebesar 38 persen yang berlaku untuk pesawat jet maupun non-jet. Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif berupa PPN 11 persen yang ditanggung pemerintah serta pembebasan bea masuk suku cadang pesawat hingga 0 persen.
“Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah ini, karena memang tidak mudah menyikapi kenaikan harga BBM avtur yang sangat tinggi akibat krisis geopolitik Timur Tengah,” kata Denon.